Kriminalitas

Wah, Uang Palsu Dipakai Transaksi Seks?

Kompas.com - 10/02/2011, 15:40 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Jika biasanya uang palsu banyak beredar di pasar-pasar tradisional, kini diduga, sebagian mulai beralih ke kawasan lokalisasi. Seperti hasil tangkapan aparat Polda Bali di sebuah kawasan lokalisasi Padanggalak, Denpasar.

Dari tangan seorang pria bernama Ahmad Roni, polisi mengamankan uang palsu pecahan Rp 50.000 dengan total Rp 1.550.000. Penangkapan ini bermula saat polisi melakukan razia kendaraan di kawasan lokalisasi Padanggalak, Minggu (6/2/2011).

Saat polisi menggeledah isi jok tersangka, ditemukan sebuah tas kresek yang berisi uang cukup banyak. Setelah diperiksa ternyata uang sejumlah Rp 1.550.000 tersebut adalah uang palsu. "Dugaan sementara uang tersebut hendak digunakan untuk transaksi seks di lokalisasi,” kata Kepala bidang Humas Polda Bali, Kombes Gede Sugianyar saat konferensi pers di Mapolda Bali, Kamis (10/2/2011) siang tadi.

Pria berusia 46 tahun tersebut kemudian diamankan polisi untuk menjalani proses hukum. Saat ditanya wartawan, pria asal Probolinggo yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung ini tidak mengakui uang palsu tersebut miliknya. "Saya cuma nemu di jalan, maunya saya bawa pulang ke Jawa” katanya.

Namun polisi tak langsung percaya dengan pengakuan korban, dan tetap akan memproses yang bersangkutan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Jika terbukti bersalah, tersangka terancam hukuman 6 tahun penjara karena melanggar Pasal 245 KUHP tentang perbuatan, membawa, menyimpan, dan mengedarkan uang palsu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau